Mengenal Skizofren

            Skizofren adalah gangguan mental yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Gangguan skizofren menyebabkan penderita mengalami halusinasi, delusi dan kekacauan berpikir dan perubahan prilaku. Penderita skizofren kesulitan membedakan kenyataan dengan pikiran nya sendiri disebut dengan Psikosis.

Skizofren umumnya muncul di masa remaja. Gejala awal ini terkadang dinilai wajar terjadi pada masa remaja karena sering disalahartikan oleh masyarakat sekitar.

Gejala awal skizofren, yaitu :

  1. Mengasingkan diri dengan orang lain
  2. Murah terpancing marah dan depresi
  3. Perubahan pada pola tidur
  4. Kurangnya konsentrasi dan motivasi
  5. Kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah

Skizofren dibagi menjadi dua katagori, yaitu positif dan negative. Gejala positif mengacu pada perilaku yang tidak tampak pada individu yang sehat. Sedangkan gejala negative mengacu pada hilangnya minat yang sebelumnya dimiliki oleh penderita. Gejala negative berlangsung beberapa tahun, sebelum penderita mengalami gelaja awal.

Gejala skizofren positif :

  • Halusinasi. Halunasi adalah perasaan mengalami sesuatu yang terasa nyata, namun sebenarnya perasaan itu hanya ada di pikiran penderitanya. Misalnya, merasa mendengar sesuatu, padahal orang lain tidak mendengar apapun.
  • Delusi. Delusi atau waham adalah meyakini sesuatu yang bertolak belakang dengan kenyataan. Gejalanya beragam, mulai dari merasa diawasi, diikuti, bahkan sedang Sebagian besar penderita skizofrenia mengalami gejala ini.
  • Kacau dalam berpikir dan berbicara. Gejala ini dapat diketahui dari kesulitan penderita dalam berbicara. Penderita skizofrenia sulit berkonsentrasi, bahkan membaca koran atau menonton televisi saja sangat kesulitan. Caranya berkomunikasi juga membingungkan, sehingga sulit dimengerti oleh lawan bicaranya.
  • Perilaku kacau. Perilaku penderita skizofrenia sulit diprediksi. Bahkan cara berpakaiannya juga tidak biasa. Secara tidak terduga, penderita dapat tiba-tiba berteriak dan marah tanpa alas an.

Gejala Skizofren Negatif :

  • Respons emosional yang ganjil, seperti ekspresi wajah dan nada bicara yang tidak berubah (monoton).
  • Sulit untuk merasa senang atau puas.
  • Enggan bersosialisasi dan lebih memilih berdiam di rumah.
  • Kehilangan minat dan motivasi pada berbagai aktivitas, seperti menjalin hubungan atau berhubungan seks.
  • Pola tidur yang berubah.
  • Tidak nyaman berada dekat orang lain, dan tidak mau memulai percakapan.
  • Tidak peduli pada penampilan dan kebersihan diri.Referensi :
    – Patel, et al. (2014). Schizophrenia: Overview and Treatment Options. Pharmacy and Therapeutics, 39(9), pp. 638–645.
    – Tsai, et al. (2013). Psychiatric Comorbidity among Adults with Schizophrenia: A Latent Class Analysis. Psychiatry Res.,210(1), pp.16-20.
    – Health Service Executive. Conditions & Treatments. Schizophrenia.
    – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2016). Litbangkes. Riskesdas 2013.
    – NHS Choices UK (2016). Health A-Z. Schizophrenia.
    – US Department of Human and Health Services (2018). National Institute Mental of Health. Schizophrenia.
    – World Health Organization (2018). Schizophrenia.
    – Mayo Clinic (2018). Diseases and Conditions. Schizophrenia.
    – Frankenburg, F.R. Medscape (2018). Schizophrenia.
    – Higuera, V. Healthline (2018). What Do You Want to Know about Schizophrenia?
  • Penulis : Via (Talenta Center Jakarta)
  • Editor   : Ryan Dwi G

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *